Sang Pengendali... Andakah?
Menarik sekali membaca novel Dan Brown yang berjudul Deception Points (diterjemahkan menjadi Titik Muslihat), dan seperti biasa, Dan Brown menyuguhkan sebuah plot yang luar biasa dengan menyajikan bahwa dalang dari semua peristiwa yang terjadi dalam novelnya adalah pihak yang tidak disangka-sangka oleh para pembaca.
Sang Pengendali... begitu disebutkan dalam novelnya. Dialah yang memberi instruksi kepada 3 anggota pasukan khusus untuk mengamankan "proyek" yang sedang dia rancang, bahkan jika perlu, habisi siapapun yang menghalangi. Dan tahukah Anda, siapakah sang Pengendali itu? Jawabnya adalah... baca novelnya :-).. YAng jelas, untuk menjadi 'Pengendali" dalam kehidupan nyata mestilah mempunyai minimal karakter-karakter berikut: leadership, analisis yang tajam, retorika yang handal dan visioner.
Saya tidak ingin mengulas novel Dan Brown disini. Tapi ketika membacanya, saya teringat sesuatu hal yang pernah terjadi, dan cukup tergelitik jadinya untuk mengungkapkannya ketika membaca drama sang Pengendali diatas.
Kisah seseorang yang memiliki visi ke depan dan kreatif dalam mewujudkan ide-idenya, tapi dia berada dalam posisi bawahan yang harus taat kepada atasan. Di satu sisi, sang atasan yang memposisikan diri sebagai sang Pengendali, tidak memiliki karakter-karakter diatas. Secara leadership, dia ditaati karena jabatan. Kemampuan analisa cukup baik walaupun tidak tajam. Kemampuan retorika juga biasa-biasa saja. Visioner? Mungkin, tapi dalam menjabarkan visinya secara runut mungkin belum mampu. Berhadapan dengan pemimpin seperti ini, maka apa kira-kira yang akan terjadi? Mentok-lah dia..
Tapi sayangnya, sang Pengendali tidak menyadari posisinya dengan baik. Bahkan, malah membuat label yang tidak selayaknya untuk ide-ide dan terobosan baru hasil pemikiran sang bawahan dengan menyebutnya sebagai "ide liar" dari seseorang yang memiliki "pemikiran liar".
Dan karena jabatannya pula, maka bawahan-bawahan yang lain terpengaruh oleh labeling seperti ini. Oalaaahh....
Yakinlah, bila lembaga Anda dipimpin oleh orang dengan berbagai macam keterbatasannya, dan dengan keterbatasannya ini pula dia membatasi kreatifitas Anda, maka lembaga Anda tidak akan pernah maju. Untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman mungkin bisa, tapi untuk mengatasi tantangan zaman, tak akan pernah bisa.
Maka saran saya, bila Anda dalam posisi sebagai pimpinan tolong 'pelihara' orang-orang yang visioner dan kreatif. dan bila Anda dalam posisi bawahan yang kreatif, dimanapun dan kapanpun peliharalah kemampuan berkreasi Anda. Kalaupun pimpinan Anda sekarang tidak menghargai ide-ide kreatif Anda, maka saya yakin banyak lembaga lain yang memburu orang seperti Anda.
Jadi???
(PA)
Sang Pengendali... begitu disebutkan dalam novelnya. Dialah yang memberi instruksi kepada 3 anggota pasukan khusus untuk mengamankan "proyek" yang sedang dia rancang, bahkan jika perlu, habisi siapapun yang menghalangi. Dan tahukah Anda, siapakah sang Pengendali itu? Jawabnya adalah... baca novelnya :-).. YAng jelas, untuk menjadi 'Pengendali" dalam kehidupan nyata mestilah mempunyai minimal karakter-karakter berikut: leadership, analisis yang tajam, retorika yang handal dan visioner.
Saya tidak ingin mengulas novel Dan Brown disini. Tapi ketika membacanya, saya teringat sesuatu hal yang pernah terjadi, dan cukup tergelitik jadinya untuk mengungkapkannya ketika membaca drama sang Pengendali diatas.
Kisah seseorang yang memiliki visi ke depan dan kreatif dalam mewujudkan ide-idenya, tapi dia berada dalam posisi bawahan yang harus taat kepada atasan. Di satu sisi, sang atasan yang memposisikan diri sebagai sang Pengendali, tidak memiliki karakter-karakter diatas. Secara leadership, dia ditaati karena jabatan. Kemampuan analisa cukup baik walaupun tidak tajam. Kemampuan retorika juga biasa-biasa saja. Visioner? Mungkin, tapi dalam menjabarkan visinya secara runut mungkin belum mampu. Berhadapan dengan pemimpin seperti ini, maka apa kira-kira yang akan terjadi? Mentok-lah dia..
Tapi sayangnya, sang Pengendali tidak menyadari posisinya dengan baik. Bahkan, malah membuat label yang tidak selayaknya untuk ide-ide dan terobosan baru hasil pemikiran sang bawahan dengan menyebutnya sebagai "ide liar" dari seseorang yang memiliki "pemikiran liar".
Dan karena jabatannya pula, maka bawahan-bawahan yang lain terpengaruh oleh labeling seperti ini. Oalaaahh....
Yakinlah, bila lembaga Anda dipimpin oleh orang dengan berbagai macam keterbatasannya, dan dengan keterbatasannya ini pula dia membatasi kreatifitas Anda, maka lembaga Anda tidak akan pernah maju. Untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman mungkin bisa, tapi untuk mengatasi tantangan zaman, tak akan pernah bisa.
Maka saran saya, bila Anda dalam posisi sebagai pimpinan tolong 'pelihara' orang-orang yang visioner dan kreatif. dan bila Anda dalam posisi bawahan yang kreatif, dimanapun dan kapanpun peliharalah kemampuan berkreasi Anda. Kalaupun pimpinan Anda sekarang tidak menghargai ide-ide kreatif Anda, maka saya yakin banyak lembaga lain yang memburu orang seperti Anda.
Jadi???
(PA)
Komentar