Parahyangan... Kenangan lama
Terkejut juga sewaktu baca berita beberapa hari yang lalu bahwa KA Parahyangan yang melayani jalur Bandung- Jakarta diakhiri masa tugasnya, dan digabung dengan KA Argo Gede.
Saya bukan penumpang setia KA ini, dan seumur-umur hanya 2 kali saja naik KA ini karena kondisi 'darurat' saja. Maksudnya karena kepepet ga bisa naik bis, karena sebenarnya tunggangan favorit saya adalah bis (Bintang Kedjora atau Bintang Permata Sari -antara 1995 sd. 1998). Tapi waktu SD, memang KA yang jadi favorit karena saat itu saya adalah seorang 'pemabuk' bila naik mobil. Mulai 1986, saya ganti tunggangan favorit.
Kenapa terkenang? karena saya dulu (1980-1986) tinggal di kota kecil, Purwakarta, dan SD saya terletak tidak jauh dari rel KA, di daerah Pasar Rebo. Setiap hari ketika saya berangkat sekolah, saya selalu mampir ke rumah kawan yang terletak persis di samping tiang sinyal yg berkjarak kurang lebih 500 m dari stasiun. Persis pukul 06.15, lewatlah kereta putih/krem berstrip oranye dari arah Bandung menuju Jakarta. Itulah KA Parahyangan yang tidak berhenti di Stasiun Purwakarta, sehingga saat itu saya punya kesan bahwa ini adalah kereta yang anggun nan mewah, yang lain kalah... termasuk KA Patas Ekonomi Jakarta Sidareja yang mampir jam 11.00 (dari Jakarta) dan jam 14.00 (dari Sidareja), Apalagi KRD (saat itu punya nama : Purnawarman). Jadwal rutin KA ini saat itu (lupa-lupa ingat) pukul 12.00, 13.00, 16.00 dan 17.00.
Untuk KA yg lewat pukul 17.00, saya biasa 'mencegatnya' di pintu perlintasan Sadang (sekarang sudah tidak ada, karena diganti oleh jembatan).
Yang menakjubkan fantasi kanak-kanak saya waktu itu ada dua hal. Pertama, saat kereta melintas di rel yang tergenang air saat hujan lebat. Bagaimana wiper mungil di jendela lokomotif bergerak kiri-kanan, lalu tempias air yang tercipta karena hembusan angin di atap dan gerbong belakang kereta .... wuihhh.. indah dilihat. Yang kedua, pada saat-saat tertentu, dua rangkaian kereta digabung menjadi satu sehingga terciptalah rangkaian panjang KA ini dengan lokomotif ganda di depan dan 14 gerbong penumpang (yang ini kayaknya nggak ada lagi setelah PPKA punya lokomotif berpower gede).
Sekedar info saja, salah satu tempat bermain favorit saya adalah stasiun dan depo KA, karena kebetulan ada teman sekelas di SD yang ayahnya bekerja di stasiun. Paling senang melatih skill melompat ke kereta yang sedang langsir, terutama kereta tangki Pertamina yang tangganya terjangkau oleh anak kecil.. Kereta uap saat itu pun masih ada, namun tugasnya setahu saya hanya menarik gerbong-gerbong langsir tadi.
Yah.. kenangan lama yang muncul kembali 'gara-gara' membaca berita tentang KA Parahyangan...
Saya bukan penumpang setia KA ini, dan seumur-umur hanya 2 kali saja naik KA ini karena kondisi 'darurat' saja. Maksudnya karena kepepet ga bisa naik bis, karena sebenarnya tunggangan favorit saya adalah bis (Bintang Kedjora atau Bintang Permata Sari -antara 1995 sd. 1998). Tapi waktu SD, memang KA yang jadi favorit karena saat itu saya adalah seorang 'pemabuk' bila naik mobil. Mulai 1986, saya ganti tunggangan favorit.
Kenapa terkenang? karena saya dulu (1980-1986) tinggal di kota kecil, Purwakarta, dan SD saya terletak tidak jauh dari rel KA, di daerah Pasar Rebo. Setiap hari ketika saya berangkat sekolah, saya selalu mampir ke rumah kawan yang terletak persis di samping tiang sinyal yg berkjarak kurang lebih 500 m dari stasiun. Persis pukul 06.15, lewatlah kereta putih/krem berstrip oranye dari arah Bandung menuju Jakarta. Itulah KA Parahyangan yang tidak berhenti di Stasiun Purwakarta, sehingga saat itu saya punya kesan bahwa ini adalah kereta yang anggun nan mewah, yang lain kalah... termasuk KA Patas Ekonomi Jakarta Sidareja yang mampir jam 11.00 (dari Jakarta) dan jam 14.00 (dari Sidareja), Apalagi KRD (saat itu punya nama : Purnawarman). Jadwal rutin KA ini saat itu (lupa-lupa ingat) pukul 12.00, 13.00, 16.00 dan 17.00.
Untuk KA yg lewat pukul 17.00, saya biasa 'mencegatnya' di pintu perlintasan Sadang (sekarang sudah tidak ada, karena diganti oleh jembatan).
Yang menakjubkan fantasi kanak-kanak saya waktu itu ada dua hal. Pertama, saat kereta melintas di rel yang tergenang air saat hujan lebat. Bagaimana wiper mungil di jendela lokomotif bergerak kiri-kanan, lalu tempias air yang tercipta karena hembusan angin di atap dan gerbong belakang kereta .... wuihhh.. indah dilihat. Yang kedua, pada saat-saat tertentu, dua rangkaian kereta digabung menjadi satu sehingga terciptalah rangkaian panjang KA ini dengan lokomotif ganda di depan dan 14 gerbong penumpang (yang ini kayaknya nggak ada lagi setelah PPKA punya lokomotif berpower gede).
Sekedar info saja, salah satu tempat bermain favorit saya adalah stasiun dan depo KA, karena kebetulan ada teman sekelas di SD yang ayahnya bekerja di stasiun. Paling senang melatih skill melompat ke kereta yang sedang langsir, terutama kereta tangki Pertamina yang tangganya terjangkau oleh anak kecil.. Kereta uap saat itu pun masih ada, namun tugasnya setahu saya hanya menarik gerbong-gerbong langsir tadi.
Yah.. kenangan lama yang muncul kembali 'gara-gara' membaca berita tentang KA Parahyangan...
Komentar